Saturday, 21 October 2017

Belajar Menulis dari Rumah sampai ke Koran

sisa foto saat masih menjadi wartawan freelance

Menulis itu gampang, bagi yang sudah melakukannya. Tapi, bisa susah setengah mati buat mereka yang baru mulai. Nah, bagaimana caranya, atau apa yang harus dilakukan seorang penulis?
Pertama, Niat! Tanamkan niat dengan sugesti positif di dalam pikiran kita. Hal ini untuk memompa semangat dan mensugesti diri sendiri. Katakan pada dirimu, Ayo, kamu pasti bisa! Saya ingin menjadi penulis. Semangat menulis ini harus dijaga agar jangan sampai kendor. Seperti kata pepatah, dimana ada kemauan, disitu ada jalan.
Bagi yang mulai belajar menulis mungkin bisa dengan mulai menulis keseharian kita di aplikasi notes yang ada di smartphone. Kalau saya dulu mulai tertarik untuk menulis saat berada di bangku SD dalam rangka menulis catatan PR agar tidak lupa saat sudah sampai di rumah, tetapi kebiasaan menulis ini berlanjut dengan menulis di buku harian. Menulis di buku harian kala itu menjadi sebuah rutinitas karena semasa kecil saya tidak memiliki teman untuk bercerita bahkan hanya sekedar bercanda. Saya sangat jarang mempunyai kesempatan quality time bersama degan papa meskipun hanya sekedar bercerita kegiatan saya saat di sekolah.
Yang kedua rajin membaca agar pengetahuan kita bertambah. Sebab, membaca adalah jendela ilmu pengetahuan. Dengan membaca, kita bisa memahami gaya bahasa, sistimatika dan cara menuliskannya secara runtun, mudah dicerna, menarik dan tidak bertele-tele. Membaca bagi orang penulis atau wartawan, ibarat bensin pada sepeda motor. Membaca akan melahirkan inspirasi. Saat duduk di bangku SMP saya mulai belajar menulis lebih baik lagi dengan mengisi artikel di majalah dinding sekolah kemudian dilanjutkan pada tahapan majalah sekolah saat SMA. Tidak sampai disitu, beruntung saat SMA saya memiliki kesempatan untuk mendalami bidang jurnalistik sebagai wartawan muda (freelance) di Radar Tulungagung Jawa Pos Grup untuk satu kolom genre anak muda. Pengalaman ini membawa saya untuk terus belajar dan menambah pengetahuan.
Ketiga, belajar menulis itu ibarat belajar berenang atau naik sepeda. Sebanyak apapun teori berenang atau belajar sepeda, tidak ada gunanya kalau anda tidak mencobanya. Dengan kata lain, anda tidak akan bisa menulis kalau tidak menuliskan pena di kertas. Kuncinya adalah, berlatih dan terus berlatih. Maka dari itu, mulailah menulis meskipun hanya satu kalimat saja.
Keempat, tekad dan motivasi yang kuat, ulet, tidak mudah putus asa, terus berlatih dan berlatih, mengembangkan ide dan kemampuan, merupakan modal dasar bagi penulis pemula. Awalnya kita bisa menulis bebas (free writing), temanya apa saja, termasuk uneg-uneg masalah di sekitar kita. Jangan berharap langsung bagus. Hasilnya didiskusikan dengan teman dekat kita. Lalu lakukan penulisan ulang sekaligus editing, agar tulisan itu enak dibaca, padat, tidak ada kata-kata mubazir dan tidak bertele-tele.
Nah, anggaplah kini anda sudah mulai menulis. Setiap kejadian yang anda lihat atau alami serta dirasakan bisa ditulis. Termasuk apa yang dibicarakan orang, direkam di kepala atau dicatat menjadi bahan karangan. Setelah itu, tulisan tadi dikoreksi, dibaca, diteliti dan direnungkan. Lalu, kemana hasil tulisan ini bisa dikirim? Kita bisa mengirimkan ke surat kabar sebagai surat pembaca. Misalnya, tulisan tentang reklamasi untuk siapa? Atau, masalah-masalah lain yang bisa kita amati di lingkungan kita. Biasanya, surat pembaca berupa tulisan yang menyangkut kepentingan orang banyak.  Atau, jika kita lebih suka menulis fiksi berupa puisi atau cerpen maka bisa dikumpulkan terlebih dahulu baru coba dikirimkan ke majalah atau situs online.
Kalau ingin lebih serius bisa juga kita bergabung dengan komunitas literasi yang ada di kota kita. Diharapkan melalui komunitas kemampuan menulis kita lebih berkembang sehingga bisa menghasilkan satu karya. Beberapa tahun yang lalu sebelum saya hijrah ke batam, saya juga bergabung menjadi anggota satu komunitas literasi di Trenggalek yakni QLC.
Lalu bagaimana kalau kita ingin menjadi wartawan pemula? Seorang wartawan haruslah memiliki sifat dasar seperti sikap kritis, rasa ingin tahu yang besar, pengetahuan luas, pikiran terbuka, pekerja keras dan cerdas. Ia juga harus tekun dan terus belajar. Di kepalanya, selalu ada pertanyaan dan tidak membunuh pertanyaan itu.
Seorang wartawan harus menguasai teknik jurnalistik seperti; menulis berita, menulis artikel atau feature, teknik wawancara dan reportase atau laporan pandangan mata. Ia harus menguasi bidang liputan dan menaati Kode Etik Jurnalistik.
Menulis berita secara sederhana diartikan sebagai laporan sebuah peristiwa atau kejadian menarik. Alur peristiwa itu biasanya dilaporkan dengan konsep WHAT (apa) WHO (siapa) WHERE (dimana) WHEN (kapan) WHY (mengapa) dan HOW (bagaimana). Rumusan ini biasanya disebut 5W + 1 H. Dengan rumus ini, bisa kita susun peristiwa APA, yang terlibat SIAPA, terjadi KAPAN dan lokasinya DIMANA, serta MENGAPA bisa terjadi serta BAGAIMANA ceritanya.
Dalam menulis sebuah berita, biasanya dipakai struktur piramida terbaik, yang terdiri dari judul, teras berita (lead) isi tubuh berita dan penutup. Ini dilakukan agar bagian yang penting masuk ke dalam seluruh berita dan bagian yang kurang penting (yang bisa dipangkas atau dibuang redaktur) dibagian bawah. Yang tidak boleh diabaikan saat menulis berita ada tiga hal yaitu akurasi, akurasi dan akurasi. Sebab, kalau beritanya tidak akurat, asalan-asalan dan salah media massa pun tidak akan dipercaya pembacanya dan tidak akan laku. Hasil kerja liputan wartawan selalu dievakuasi dalam rapat redaksi.
Ada beberapa cara untuk mendapatkan berita. Antara lain melalui wawancara dengan narasumber dan melaporkan hasil wawancara itu. Metode ini disebut reportase yakni melaporkan peristiwa dari pandangan mata.
Ada pula yang disebut hasil riset, jadi kita meneliti dan membaca dokumen, sumber-sumber kepustakaan dan data-data lainnya. Data dan informasi itu disajikan secara sederhana sehingga mudah dimengerti oleh pembaca. Dan yang terakhir adalah investigasi. Cara kerja wartawan investigasi ini mirip kerja detektif yang secara terus menerus dan tak kenal lelah mengumpulkan data dan fakta untuk mengungkap sebuah kasus.
Bekerja sebagai wartawan itu harus disiplin. Sebab, wartawan punya jadwal kerja yang ketat dan dikenal dengan istilah dead line (batas akhir) sebelum media tersebut dicetak. Apabila salah satu jurnalis molor maka akan merusak jalur distribusi dan akan terlambat sampai ke pembaca.
Seorang wartawan juga harus punya perencanaan kerja dan kreativitas yang tinggi. Ia juga harus bisa bekerja sama dalam tim, punya tanggungjawab dan daya juang dan daya jelajah, jujur dan bekerja berdasarkan hati nurani.
Modal bakat saja, tidak cukup untuk menjadi wartawan. Seorang wartawan harus menyadari, ia mencari, mengolah, menyimpan dan menyampaikan informasi kepada masyarakat yang memiliki hak untuk mengetahui (right the know) membela keadilan dan kebenaran. Itu sedikit cerita proses panjang saya dalam belajar menulis. Beberapa tahun belakangan saya vakum dalam hal penulisan. Semenjak lulus kuliah pascasarjana, mungkin tesis menjadi karya tulis terakhir saya. Tetapi belakangan ini saya rindu sekali ingin menulis kembali. Melalui portofolio anak saya ingin melanjutkan kebiasaan menulis lagi. Salam semangat menulis 

No comments:

Post a Comment