Friday, 28 December 2012

Silaturahmii

December 28, 2012 0 Comments
BETAPA PENTING MENYAMBUNG SILATURAHMI

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shâlih al-’Utsaimîn

diambil dari almanhaj.or.id

Marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala. Takwa yang juga dapat mengantarkan kita pada kebaikan hubungan dengan sesama manusia. Lebih khusus lagi, yaitu sambunglah tali silaturahmi dengan keluarga yang masih ada hubungan nasab (anshab). Yang dimaksud, yaitu keluarga itu sendiri, seperti ibu, bapak, anak lelaki, anak perempuan ataupun orang-orang yang mempunyai hubungan darah dari orang-orang sebelum bapaknya atau ibunya. Inilah yang disebut arham atau ansab. Adapun kerabat dari suami atau istri, mereka adalah para ipar, tidak memiliki hubungan rahim ataupun nasab.
Banyak cara untuk menyambung tali silaturahmi. Misalnya dengan cara saling berziarah (berkunjung), saling memberi hadiah, atau dengan pemberian yang lain. Sambunglah silaturahmi itu dengan berlemah lembut, berkasih sayang, wajah berseri, memuliakan, dan dengan segala hal yang sudah dikenal manusia dalam membangun silaturahmi. Dengan silaturahmi, pahala yang besar akan diproleh dari Allah Azza wa Jalla. Silaturahim menyebabkan seseorang bisa masuk ke dalam surga. Silaturahim juga menyebabkan seorang hamba tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat.
Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.
Silaturahmi juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun 'alaihi].
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ
“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun 'alaihi].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa menyambung silaturahmi lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang budak. Dalam Shahîh al-Bukhâri, dari Maimûnah Ummul-Mukminîn, dia berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَشَعَرْتَ أَنِّي أَعْتَقْتُ وَلِيدَتِي قَالَ أَوَفَعَلْتِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ
“Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?” Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”.
Yang amat disayangkan, ternyata ada sebagian orang yang tidak mau menyambung silaturahmi dengan kerabatnya, kecuali apabila kerabat itu mau menyambungnya. Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan orang ini bukanlah silaturahmi, tetapi hanya sebagai balasan. Karena setiap orang yang berakal tentu berkeinginan untuk membalas setiap kebaikan yang telah diberikan kepadanya, meskipun dari orang jauh.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaqun 'alaihi].
Oleh karena itu, sambunglah hubungan silaturahmi dengan kerabat-kerabat kita, meskipun mereka memutuskannya. Sungguh kita akan mendapatkan balasan yang baik atas mereka.
Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq 'alaihi].
Begitu pula firman Allah Ta’ala:
“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”. [ar-Ra’d/13:25].
Dari Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun 'alaihi].
Memutus tali silaturahmi yang paling besar, yaitu memutus hubungan dengan orang tua, kemudian dengan kerabat terdekat, dan kerabat terdekat selanjutnya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ
”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka para sahabat menjawab: ”Mau, ya Rasulullah,” Nabi n bersabda: ”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua”.
Demikianlah, betapa besar dosa seseorang yang durhaka kepada orang tua. Dosa itu disebutkan setelah dosa syirik kepada Allah Ta’ala. Termasuk perbuatan durhaka kepada kedua orang tua, yaitu tidak mau berbuat baik kepada keduanya. Lebih parah lagi jika disertai dengan menyakiti dan memusuhi keduanya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam shahîhain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ
”Termasuk perbuatan dosa besar, yaitu seseorang yang menghina orang tuanya,” maka para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah orang yang menghina kedua orang tuanya sendiri?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Ya, seseorang menghina bapak orang lain, lalu orang lain ini membalas menghina bapaknya. Dan seseorang menghina ibu orang lain, lalu orang lain ini membalas dengan menghina ibunya”.
Wahai orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla. Dan marilah kita melihat diri kita masing-masing, sanak keluarga kita! Sudahkah kita menunaikan kewajiban atas mereka dengan menyambung tali silaturahmi? Sudahkah kita berlemah lembut terhadap mereka? Sudahkah kita tersenyum tatkala bertemu dengan mereka? Sudahkah kita mengunjungi mereka? Sudahkah kita mencintai, memuliakan, menghormati, saling menunjungi saat sehat, saling menjenguk ketika sakit? Sudahkah kita membantu memenuhi atau sekedar meringankan yang mereka butuhkan?
Ada sebagian orang tidak suka melihat kedua orang tuanya yang dulu pernah merawatnya kecuali dengan pandangan yang menghinakan. Dia memuliakan istrinya, tetapi melecehkan ibunya. Dia berusaha mendekati teman-temannya, akan tetapi menjahui bapaknya. Apabila duduk dengan kedua orang tuanya, maka seolah-olah ia sedang duduk di atas bara api. Dia berat apabila harus bersama kedua orang tuanya. Meski hanya sesaat bersama orang tua, tetapi ia merasa begitu lama. Dia bertutur kata dengan keduanya, kecuali dengan rasa berat dan malas. Sungguh jika perbuatannya demikian, berarti ia telah mengharamkan bagi dirinya kenikmatan berbakti kepada kedua orang tua dan balasannya yang terpuji.
Ada pula manusia yang tidak mau memandang dan menganggap sanak kerabatanya sebagai keluarga. Dia tidak mau bergaul dengan karib kerabat dengan sikap yang sepantasnya diberikan sebagai keluarga. Dia tidak mau bertegus sapa dan melakukan perbuatan yang bisa menjalin hubungan silaturahmi. Begitu pula, ia tidak mau menggunakan hartanya untuk hal itu. Sehingga ia dalam keadaan serba kecukupan, sedangkan sanak keluarganya dalam keadaan kekurangan. Dia tidak mau menyambung hubungan dengan mereka. Padahal, terkadang sanak keluarga itu termasuk orang-orang yang wajib ia nafkahi karena ketidakmampuannya dalam berusaha, sedangkan ia mampu untuk menafkahinya. Akan tetapi, tetap saja ia tidak mau menafkahinya.
Para ahlul-’ilmi telah berkata, setiap orang yang mempunyai hubungan waris dengan orang lain, maka ia wajib untuk memberi nafkah kepada mereka apabila orang lain itu membutuhkan atau lemah dalam mencari penghasilan, sedangkan ia dalam keadaan mampu. Yaitu sebagaimana yang dilakukan seorang ayah untuk memberikan nafkah. Maka barang siapa yang bakhil maka ia berdosa dan akan dihisab pada hari Kiamat.
Oleh karena itu, tetap sambungkanlah tali silaturahmi. Berhati-hatilah dari memutuskannya. Masing-masing kita akan datang menghadap Allah dengan membawa pahala bagi orang yang menyambung tali silaturahmi. Atau ia menghadap dengan membawa dosa bagi orang yang memutus tali silaturahmi. Marilah kita memohon ampun kepada Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[Diadaptasi oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi', Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn, hlm. 505-508]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]



Gegara dikomplain sama suami masalah silaturahmi, bin niati aku langsung googling n baca kajian mengenai pentingnya silaturahmi. Sebenernya udah sering sih denger tausyiah yang ngebahas tentang silaturahmi, dan selama ini as far as aku ngerasa nggak ada pernah ada masalah sama orang atau sodara.  Kalaupun ada sedikit ga nyambung ato nggak cocok itu kan wajar, namanya orang juga beda-beda. beda prinsipnya, latar belakang n kebiasaannya. Yang penting gimana kitanya aja kan..

Kalau aku sih punya prinsip, orang punya pemikiran bagaimanapunterserah mereka. Nggak perlulah kita yang sampe segitunya harus jelasin atau menye menye terlalu dalam. Ingat, mindset orang itu susah banget diubah apalagi sama kita yang maybe bukan siapa-siapa atau ga terlalu dekat sama someone. Jadi menurut aku tergantung kitanya aja, gimana cara kita menempatkan diri n menghadapi berbagai macam tipe orang yang bakal kita temui di dunia ini. Sebelum kita memutuskan untuk bagaimana menempatkan diri kita harus tahu terlebih dahulu gimana sih orang yang lagi berkomunikasi sama kita. Sampai saat ini itulah hal penting yang memang kita harus aware..

Malem ini aku dikomplain sama suami karna katanya aku jarang banget menyapa keluarganya, "menyapa" di sini yang dia maksud bukan menyapa langsung, maksudnya by phone mail or bbm etc lah segala cara untuk berkomunikasi jaman sekarang. Ya memang sih aku terlampau sibuk atau mungkin kurang menghubungi mereka. Tapi kalau misalkan mereka nelepon suami, aku suka bisik-bisik suruh suami buat nanyain kabar keponakan, udah bisa apa atau sekolahnya sampai mana, yang kurang bisa di pelajaran apa bahkan nilai rapornya. Sampai kesini masih aja ada komplain sih, sebenarnya kadang aku berpikir "aku harus gimana sih". Aku itu tipe orang yang nggak bisa basa basi, kalau harus sering sms ato bbm aku nggak tau harus bahas apa. Palingan sekitaran kabar n kegiatan gitu aja doang. Gimana ya..buat aku yang nggak terbiasa dengan hal kaya gini terasa berat banget.

insyaallah

Katanya bahkan kalau misalkan si kakak-kakak lagi nelepon katanya aku nggak respek. Sigh :( lelah juga ya dituntut. Mungkin sebenarnya dia nggak nuntut cuman ga terbiasanya aku aja dengan perubahan yang drastis begitu. Aku sih mau mau aja mencoba basa basi yang basi tapi kalaupun belum bisa maksimal ya harap dimaklumi. Belum lagi masalah ikutan nimbrung di telpon, aku punya kenangan buruk banget sama kebiasaan nimbrung di obrolan orang. Rasa sakitnyatuh masih membekas sampai saat ini, bahkan hal-hal begini udah jadi semacem alarm otomatis yang nyala kalau ada dalam sikon kaya gini. Waktu kecil, papaku sangat disiplin dan membiasakan diri padaku untuk nggak nimbrung n ikut-ikutan kalau ada orang lagi ngobrol, kecuali ditanya ato memamg itu telepon buat kamu!! Kalo ada orang telepon ga boleh nyeletuk2, triak2 n manja (baca: cara perhatian alias caper kalo jaman sekarang) hapal banget aku, mengingat dulu setiap kalian ngelakuin kesalahan aku harus ngakuin kesalahan itu satu-satu apa aja n ga boleh ngulangin lagi. Sampai detik hapal mati itu aturan dalam keluargaku. Jadinya sekarang aku semacam sulit banget buat move on, sebenernya uda ga pengen ya yang namanya nyesek ato keinget tapi entah kenapa semua ini melekat sekali di hati.. Ya Alloh semoga Engkau segera menghilangkan perasaan seperti ini dan aku bisa lebih baik lagi, aminn. Maka dari itu aku sulit sekali lepas jadi diri aku tanpa introvert kalo lagi ngobrol sama orang (termasuk ga suka ditanya-tanya masalah pribadi semacam sekarang tinggal dimana, kerja apa bla bla) agak-agak sulit untuk terbuka. Mungkin banyak orang di luar sana menganggap aku adalah orang yang punya kepribadian aneh, freak.. Tapi itulah adanya aku, manusia yang ingin terus lebih baik. Sebenernya pengen sih nanti, suatu saat gitu kalo aku punya rejeki lebih ngasih kado-kado kecil buat keponakan. Semoga Alloh membukakan pintu rejeki buat aku supaya aku bisa lebih banyak bersedekah dan berbagi dengan orang-orang di sekeliling. Aminn. Semoga juga suamiku bisa terbuka pikirannya kalau sebenernya saya bukan orang yang antipati dan tidak pernah respek sama orang lain, tapi aku manusia yang lemah banyak kekurangan dan terus belajar dan bertahan meskipun banyak cobaan dan cibiran yang menghampiri hidup ini. Janganlah berpikiran kalau aku punya banyak musuh dan dicerca, semua itu hanya bagian dari lika liku hidup yang pastinya tidak pernah kita inginkan adanya tapi inilah takdir yang harus kita jalani...:(


keep positive thinking



Sunday, 9 December 2012

Roti Ala Bread Talk

December 09, 2012 1 Comments


 
Seperti biasa, secara berkala aku melakukan stock opname – meriksain isi lemari penyimpan bahan kue-kue. Kebiasaanku kalau mampir ke Toko Bahan Kue selain membeli bahan-bahan untuk orderan di Goldoven.com, aku juga sering mencomoti bahan-bahan kue yang akan aku gunakan untuk mencoba resep-resep baru.
Dalam hati sih mikirnya, ooh yaa aku mau coba bikin ini ah, bikin itu ah, kebetulan ada bahannya, beli aaah … nah setelah itu karena kesibukan kantor meningkat, ya lupa deh dengan niat mencoba resep baru hehehe :DDi sini pentingnya meriksa persediaan bahan kue secara berkala, karena tidak semua bahan kue itu bisa tahan lama di dalam lemari loh.
Nah hasil stock opnameku yang terakhir adalah menemukan sisa tepung komachi yang sudah dibuka dari plastik segelnya sejumlah kurang lebih 750 gram. Waduh, aku lupa ini tepung kapan aku beli dan teledor tidak menuliskan tanggal pembelian di bungkusnya. Akhirnya aku mengandalkan indra penciumanku, setelah endus-endus sana sini tampaknya bau tepungnya masih normal dan belum tengik. Wah harus segera ditindak-lanjuti nih daripada berakhir di tempat sampah!
Kalau bikin roti, biasanya aku pakai resep mbak Fatmah NCC seperti di resep Roti Boy Wanna-Be ini … Namun kali ini aku ingin mencoba resep lain. Kebetulan dulu pernah baca di milis NCC sharing tentang resep roti Bread Talk, tapi kok ya males nyari di arsip milis ya. Browsing-browsing saja deh. Lalu nemu blog ini yang nyantumin resep Roti Abon/Fire Floss Bread Talk. Kalau lihat blog/websitenya sih, kok gak jelas gitu siapa yang uji coba resepnya? Tapi rasa penasaranku akhirnya membuatku memilih resep ini.
Tapi setelah ngumpulin bahan-bahan yang dibutuhkan, ternyata ada yang kurang dan alhasil aku jadinya “ngarang” resep sendiri :D
Kalau mau coba, silakan pilih mau pakai resep aslinya atau resep hasil ngarangku …
Bahan Roti :
1 kg Tepung terigu K2 / Tepung terigu ala Bread Talk — (aku akhirnya pakai 750 gram komachi, 250 gram tepung Cakra)
225 gr Gula pasir
5 gr Bread improver (Baker’s Bonus)
10 gr Bread emulsifier (Ibis Blue) >> Gak punya, jadi gak pakai
20 gr Ragi instan >> satu bungkus SAF Instan 11 gram jadi total 22 gram
50 gr Susu full cream bubuk
15 gr Garam
200 ml Susu cair full cream
100 gr Kuning telur (± dari 6 butir telur) >> ini gak pas 100 gram, sempat bingung maksudnya mau 100 gram kuning telur atau 6 kuning telur? Karena males nimbang lagi aku pakai patokan 6 kuning telur
350 ml Air es (secukupnya) >> akhirnya yang terpakai hanya 200 ml air es
100 gram Margarin >> aku pakai butter semua – Unsalted Butter
100 gram Butter >> Unsalted Butter
Bahan Olesan 1 :
Kuning telur, campur dengan sedikit madu
Bahan Olesan 2 :
3 sdm Mayonaise
2 sdm Susu Kental Manis
1 sdm saos tomat botolan
Cara Membuat (instruksi asli dari blognya berikut notes dari aku):
Campur adonan kering (tepung terigu, gula pasir, bread improver, bread emulsifier, ragi instant, dan susu bubuk full cream) sampai semua bahan rata. Kalau aku, sebelum adonan kering ini aku masukkan mikser Bosch, aku campur dulu di wadah/mangkok lain lalu aku aduk rata dengan whisk.
Masukkan susu cair, kuning telur, dan air es sedikit sedikit sampai secukupnya dulu (jangan langsung dituang semua air esnya). Air es itu bukan sekedar air dalam kulkas, tapi air yang dicampur es batu sehingga lebih dingin dari pada air yang cuma disimpan di kulkas. Penuangan air es dilakukan sedikit demi sedikit sambil memperhatikan kondisi adonan. Kalau terlihat sudah cukup lembab/lunak, tidak perlu dihabiskan semua air esnya. Air es menjadi pengontrol tekstur adonan karena aku tidak tahu persis kuning telur yang diminta itu sebenarnya 100 gram atau 6 kuning telur. Karena bila kebanyakan kuning telur, nanti adonannya terlalu lembut, apalagi kalau ditambah lagi kebanyakan air, adonannya bisa gagal :D
Mixer adonan sampai menjadi 1/2 kalis. Setengah kalis ini adonannya sudah kelihatan tercampur rata, tapi memang belum mencapai bentuk tekstur liat bisa diregangkan.
Tambahkan margarin, butter dan garam. Sampai di tahap ini, adonanku terlihat lebih basah dibandingkan bila menggunakan resep roti mba Fatmah. Sempat degdegan juga karena dari awal sudah curiga kuning telurku kebanyakan.
Mixer lagi hingga benar-benar kalis. Di tahap ini, untuk menjadi kalis dari 1/2 kalis butuh waktu pengulenan adonan dengan mikser Bosch selama 30 menit. Lama juga ya? Dan walaupun sudah kalis, adonannya masih tetap terlihat basah. Bagi teman-teman yang sudah biasa membuat roti, please dong pencerahannya apakah normal ya adonan masih tetap basah walau sudah kalis?
Tutup wadah dengan handuk basah, diamkan adonan selama 20 menit.
Kempiskan adonan dan potong menjadi masing-masing 40gr. Bentuk adonan menjadi bulat, lalu diamkan lagi sekitar 30-60 menit sampai mengembang dengan maksimal. Setelah mengembang adonan roti ini menjadi sangat lembut dan aku gak ngerti kenapa kok susah membuat tampilan rotinya menjadi licin. Seperti terlihat di bawah, permukaan roti terlihat keriput-keriput seperti ada selulitnya … hihihi :D
http://i800.photobucket.com/albums/yy286/cakefever/rotisobekspringform.jpg
Bentuk adonan yang sudah benar-benar mengembang menjadi agak lonjong, lalu oles dengan bahan olesan 1. Kemudian panggang di oven yang bersuhu 170 derajat celcius selama 15 menit. >> Karena aku tidak mau membuat roti floss abon, aku mengisikan selai coklat ke dalam adonan dan dimasukkan ke loyang springform untuk dijadikan roti sobek. Lalu aku olesi dengan kuning telur dicampur sedikit susu. Rotinya mengembang sangat sempurna loohh …
http://i800.photobucket.com/albums/yy286/cakefever/sesudahdiolescampurantelur.jpg
Jika sudah matang angkat dan dinginkan kue, lalu belah sedikit bagian tengahnya dan olesi dengan bahan olesan 2. Untuk olesannya mayonaise + susu kental manis + saos tomat bisa menggunakan perbandingan 4:2:1. Kemudian taburi dengan abon sapi/ayam >> Aku tidak melewati fase ini ya. Rotiku setelah diisi selai cokat, diolesi telur campur susu trus dipanggang. Dan pas manggang aku tinggal sebentar karena ada tamu, baru teringat ketika tercium wangi roti matang. Lari ke oven, jiaaah telat ngangkat niih! Olesan telur di toppingnya udah keburu menyoklat dan rada mengeras gituuu …
http://i800.photobucket.com/albums/yy286/cakefever/rotisobekmatang.jpg
Tapi setelah digigit, waduuuh rotinya beneran lembuttt. Adonan mentah roti yang saat  mengembang sudah terasa sangat lembut membuktikan hasil akhir dari roti ini memang sangat lembut.
http://www.cakefever.com/wp-content/uploads/2012/11/rotidisobek.jpg
Perhatikan serat-serat roti yang terlihat. Terlihat beda dengan serat Roti Boy Wanna-Be yang lebih pendek dan padat. Apakah itu pengaruh dari penggunaan tepung Komachi? — serius nanya :D
Dan saking lembutnya ini roti, langsung ludes seketika sehingga aku tidak bisa mengetahui apakah roti ini tetap mempertahankan keempukannya sampai keesokan harinya. Mungkin besok-besok kalau nyoba bikin lagi aku sisain sepotong untuk dicek berapa lama rotinya bisa tetap empuk.
Hanya saja untuk percobaan kali ini aku masih gagal membuat permukaan roti saat dibentuk menjadi licin sempurna … hhrrghh itu kenapa yaa??
Untuk tips-tips pembuatan roti empuk bisa dibaca di sini ya …
Ohya ada yang tanya apa itu Tepung Komachi? Tepung Komachi itu sejenis tepung terigu juga tapi entah sudah ditambah apa sehingga roti-roti yang dibuat dengan tepung ini menjadi lebih mengembang dan lembut. Selain tepung Komachi ada juga yang jelas-jelas menyebut tepung roti ala Bread Talk. Jadi kalau selama ini tahunya bikin roti itu pakai tepung protein tinggi keluaran Bogasari (cakra kembar), sekarang jadi tahu bahwa ada tepung jenis lain lagi, yang hasilnya lebih empuk daripada cuma pakai terigu protein tinggi biasa.

dari NCC;;