Wednesday, 25 October 2017

Belajar Huruf M untuk Mobil (25/10/17)






Masih dengan tema yang sama, yah hari ini kami belajar tentang huruf "M"  atau yang biasa faris baca emmmm.
Saat pertama kali mengajar pengenalan huruf, saya membaca banyak sumber baik dari sosial media maupun dari grup belajar akhirnya tetap memilih memakai metode montessori yakni pengenalan hurif dari bunyinya. Jadi kalau A dibacanya ah..ah..ah..Jadi teringat hasil diskusi di grup belajar rumah lebah daycare bahwa jangan sampai salah mengajarkan anak huruf B dibaca B.. , S dibaca S..tetapi mulailah belajar dari bunyinya. Karena ternyata justru membuat anak bingung nantinya saat mereka belajar merangkai huruf menjadi satu kata. Jadi kalau A dibacanya ah.. ah.. ah. Kalau dinyanyikan kurang lebih seperti ini ah.. ah.. ah.. for apple, beh..beh..beh..for bee, ceh.. ceh.. ceh.. for candy, dan seterusnya (dan saya baru menyadari ternyata belajar hurif itu rumit, terimakasi guru TKku yang sudah sabar mengajar). Menurut pengalaman dengan belajar lewat pengenalan bunyi akan lebih cepat ditangkap daripada dikenalkan huruf A, B, C. Yang jelas semenjak saya menerapkan metode ini, tanpa saya suruh pun Faris penasaran sendiri terhadap kata-kata yang diucapkan dari mulutnya itu pakai huruf apa ya. Dari buku Peggy Kaye (Games for Learning) bisa juga diajarkan huruf-huruf lewat permainan. Kalau anak sudah cukup mengenal huruf-huruf, dicoba dengan vara kita tuliskan huruf-huruf tersebut besar-besar di kertas (satu kertas satu huruf) kemudian kita minta anak untuk menaruh huruf tersebut di benda yang ada di rumah kita. Kegiatan ini menyenangkan sekali sehingga anak tidak terasa sedang belajar huruf (cocok untuk gaya belajar anak viual kinestetik seperti Faris).  Ada satu cara lagi dari buku Montessori mengenai read and write, huruf-huruf juga dapat dipelajari dengan cara:

1. Menggunakan Sand Paper Letter. Kertasnya agak kasar, atau bisa juga digunakan kertas amplas yang agak halus kemudian dibentuk huruf-huruf. Setelah itu anak diminta untuk mengikuti huruf tersebut dengan jarinya.

2. Setelah beberapa kali, barulah anak diminta menuliskan huruf di kertas yang besar.

3. Atau dengan Finger Painting menggunakan cat air. Jadi huruf-huruf ditulis menggunakan jari di kertas.

Cara ini tidak terbatas untuk mulai huruf vokal atau konsonan terlebih dahulu. 

Bila menggunakan metode Kinderland (Inggris), harus hafal Alphabet Terlebih dahulu baru kemudian kata per 3-huruf seperti: bad, cat, dog.
Cara membacanya memakai metode phonic. Ini berbeda sekali dengan cara mengeja bahasa Indonesia.

- Cara mengeja bahasa Indonesia: be-a=ba, be-u=bu, semua dieja dari depan.
- Cara mengeja bahasa Inggris: apple apple, aeh aeh aeh c-a-t dibaca keh-e-the, diejanya dari belakang eh-teh at, lanjutkan dengan keh-at jadi cat. 

Jika kita mengajar mambaca maka kita harus mengajarkan Balita membaca perkata, bukan per huruf atau per ejaan, seperti ba, bi, bu. Contohnya 1 kata dibuat di kertas karton dengan ukuran sedang, lalu kata ditulis cetak huruf kecil warna hitam, dan setiap hari karton itu ditunjukkan ke anak. Setiap satu hari dibacakan sekitar 5 kata minimal 3x sehari, pagi, siang sore. Ada anak yang cocok adapula yang tidak cocok dengan cara belajar ini. Kebanyakan anak-anak jaman milenial lebih cocok belajar sambil nonton youtube lagu anak-anak. Video ini ditonton sambil bernyanyi, a,b,c,d,e sampai z. Huruf-huruf di video tersebut ditunjuk. Kemudian setelah beberapa lama, huruf-huruf tersebut ditanyakan pada si anak. Setelah si anak hafal alphabet, baru kemudian diajarkan ba, bi, bu... dll. Setelah bisa ba, bi, bu, dll. kata-kata tadi digabung menjadi kalimat yang mudah misal bobo, baso, bola, mami, mama, dan lain-lain. 

Alphabet kebanyakan mulai diperkenalkan sejak usia sekitar 2 tahun tahun dengan memakai board book yang besar dan gambarnya menyolok. Dari metode belajar disekolah, anak-anak banyak mengalami kemajuan yang pesat. Metode mengajar membacanya memakai metode mengeja Be-a=Ba, be-i=Bi, dan seterusnya.

Bisa dicoba dengan flash card yang terdapat gambar dibalik kartunya. Dengan menggunakan flash card, diajarkan langsung kata per kata. Bisa juga diteruskan dengan melengkapi kata seperti:

GAMBAR MEJA -- ME __, kemudian si anak meneruskan dengan huruf yang hilang. Sebagai tambahan, walaupun menggunakan model kata per kata, huruf ABC. Juga harus diperkenalkan. Ada pengalaman dari anak teman saya, huruf ABCD dipasang di dinding. Setiap kali masuk kamar, huruf-huruf tersebut dinyanyikan. Kemudian si anak mencocokkan gambar (misalnya dari kartun) dengan kata-katanya sampai akhirnya bisa membaca. 


Alphabet diperkenalkan melalui bermain. Bisa juga menggunakan Alphabet bermagnit untuk ditempel di depan kulkas, atau dengan buku bacaan dan koran. Untuk waktunya bisa satu hari 1-2 huruf kemudian diulang kembali. 

Kebanyakan teman-teman Faris belajar Alphabet diperkenalkan sejak anak usia kurang lebih 1 tahun dengan cara menempelkan poster alphabet di sekeliling dinding di ruang keluarga. Kemudian huruf-huruf tersebut diulang-ulang setiap kali ada di ruangan itu. Pada usia 2 tahun anak sudah hafal A-Z dengan cara tersebut. Kunci dari pengenalan alphabet adalah dengan pengulangan dan kebiasaan. Kemudian dibiasakan membaca (setiap ada waktu luang). 

Akan tetapi beda ceritanya dengan anak sulung saya yang tidak suka belajar dengan duduk atau dengan didiktekan. Faris di usianya yang ketiga ini selalu lebih tertarik dengan invitation to play dari saya setiap harinya. Bahkan di saat teman-temannya sudah bisa menulis angka dan huruf dia lebih asyik mereka apa bunyi huruf yang terdengar dari sebuah kata. 


No comments:

Post a Comment