Friday, 26 October 2012

doa untuk kekasih

October 26, 2012 0 Comments

Ya Allah….
Seandainya telah engkau catatkan… Dia milikku tercipta buatku… Satukanlah hatinya dengan hatiku… Titipkanlah kebahagian antara kami…. agar kemesraan itu abadi… Dan ya Allah… ya tuhanku yang maha mengasihi… Seiringkanlah kami melayari hidup ini… Ketepian yang sejahtera dan abadi…
Tetapi ya Allah… Seandainya telah engkau takdirkan…. dia bukan miliku… Bawalah ia jauh dari pandanganku…. Luputkanlah ia dari ingatanku… Dan peliharalah aku dari kekecewaan….
Serta ya Allah ya tuhanku yang maha mengerti….
Berikanlah aku kekuatan… Melontar bayangannya jauh ke dada langit… Hilang bersama senja nan merah.. agarku bisa bahagia… Walaupun tanpa bersama dengannya…
Dan ya Allah yang tercinta… Gantillah yang telah hilang…. Tumbuhkanlah kembali yang telah patah… Walaupun tidak sama dengan dirinya…
Ya Allah ya tuhanku… Pasrahkanlah aku dengan takdirmu… Sesungguhnya apa yang telah engkau takdirkan… Adalah yang terbaik buat ku…. kerana engkau maha mengetahui… Segala yang terbaik buat hamba Mu ini…
Ya Allah… Cukuplah engkau sahaja yang menjadi pemeliharaku… Di dunia dan di akhirat… Dengarlah rintihan dari hamba Mu yang daif ini… Jangan engkau biarkan aku sendirian… Di dunia ini mahupun di akhirat… Menjuruskan aku kearah kemaksiatan dan kemungkaran… Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman… Supaya aku dan dia sama2 dapat membina Kesejahteraan hidup… Ke jalan yang Engkau redhai… dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh….
Amin.. Ya Rabbal A’lamin. .

source: blogcinta

End Session of Ur Octa

October 26, 2012 0 Comments

Malem ini bongkar2 sekaligus bersihin email dan nemuin ini mail..hiks..hiks..

Email ini dari seorang teman yang dulunya care sama aku, nggak tau juga tulus nggak 

ya..tapi aku berpositif thinking aja, berusaha ngilangin penyakit hati dengan dugaan-dugaan negatif atas seseorang. Sosok ini mungkin sangat mengharapkan aku untuk jadi pendamping hidupnya. Mungkin nggak pernah terpikir sama sekali dalam diri ini kalo dia berniat untuk sejauh itu. Yeah, hati manusia memang nggak pernah ada yang tau. Tapi semua itu hanya cukup sampai di sana..Allah yang mengatur dan menghimpun yang terserak di antara kita. Akan tetapi aku selalu berdoa dan menggantungkan segala asa ini pada Allah, Allah Yang Maha Mengatur segalanya..
Terima kasih untuk untaian doa dan menyentuh hidup ini.. 



Sepenggal Doa Untuk-Mu


Robb,...
Aku datang pada Mu dengan penuh kepasrahan
Ketika dihadapkan kepada pilihan terberat

Robb,...
Beri ketetapan hati untukku
Hati yang terbaik yang sama-sama kita lihat
Hati yang bukan saja menyejukkan dalam pandanganku
Tapi hati yang telah kau lihat sampai menembus relung kalbunya...

Alloh yang Maha Kuasa,
Maha melihat masa depan,
Maha mengetahui yang akan terjadi
Engkau jua yang mengetahui keinginan terdalam hatiku

Ya Alloh,...
Jika mendambanya adalah kesalahan
dan merindunya adalah kekeliruan
Tolong jangan biarkan hati ini terbuai dalam keindahan fatamorgana semu...

Jika kesempurnaannya bukan untukku...
Tolong bawa jauh dari relung hati...
Hapuskan khayalan keindahan tentangnya
dan jangan biarkan aku terlena dalam keindahannya...
Gantikan aku dengan kesempurnaan yang sebenarnya untuk dia

Tapi Tuhan,...
Jika kesempurnaanku adalah bersamanya
Beri aku kekuatan menentukan pilihan
Beri aku kesabaran dalam menjalani proses menggapainya
Jika dia memang untukku...
Jangan biarkan aku menyerah & terpuruk dalam belenggu masa lalu............

Smoga kau ridhoi kami untuk bersatu
Mengarungi sisa umur...
Menapaki jalan kearah Mu...
Dan melukis keindahan untuk dunia dan akhirat kami...

Tolong beri kesabaran yang penuh...
dalam melalui detik-detik waktu yang berjalan...

Amien......

Friday, 19 October 2012

Hidup Memang Kadang Nggak Adil

October 19, 2012 2 Comments

Dalam kehidupan sehari-hari kadang kita dihadapin sama sebuah pernyataan “Life is not fair” atau “hidup itu tak adil”, termasuk menyangkut berbagai kejadian yang relevan dengannya. Apakah anda merasa setuju dengan pernyataan tersebut ? Siapa yang pernah berpikir atau merasakan hal yang sama ?
Dulu, waktu masih kecil banyak banget mungkin dari kita yang nggak memikirkan atau nggak menyadarinya. Terutama bagi mereka yang kehidupannya relatif damai sejahtera, tercukupi segala kebutuhan dari orang tuanya.
Ada moment-moment yang memancing kesadaranku akan sebuah realita ini, dimana salah satunya adalah ketika memiliki sahabat yang selama berhubungan dengannya terbukti menunjukkan kualitas intelektualnya. Hanya saja karena banyak sebab yang terkait erat dengan tidak adanya dukungan finansial maupun perhatian akan pendidikan dari orang tuanya, ia hanya bisa tamat SMA di kampung halaman aja so harus berjuang merantau ke kota seorang diri, mengenyam berbagai pekerjaan termasuk yang barangkali dianggap rendahan, dan sudah pernah berpindah-pindah kerja dari waktu ke waktu. Padahal, aku tau kalo kemampuan berpikir, daya nalar, kreativitas, sikap kritis, dan rasa ingin tahunya melebihi banyak mahasiswa atau lulusan universitas yang saya ketahui. “What a waste of talent !” Sebuah potensi yang tak termaksimalkan dari seorang anak bangsa yang berkualitas.
Semenjak itu setiap kali aku ngeliat anak-anak gelandangan atau yang meminta-minta di perempatan jalan, yang terbersit di pikiran adalah kehidupan yang memang tak adil bagi sebagian (banyak) orang. Aku masih ingat ketika masih remaja, ada teman yang berkata kira-kira begini kepada salah seorang anak kecil yang meminta-minta, “Dik, kalau ingin sukses (kaya/dapat uang) jangan minta-minta, tapi belajar di sekolah.” Ketika itu aku menganggap biasa aja atau ngerasa nggak ada yang salah dari ucapan tersebut. Tapi, saat ini saku pasti bakal berpikir dua kali.
Aku yakin di antara anak-anak gelandangan dan pengemis itu banyak yang kepengen sekolah kaya anak-anak lain, temen-temennya. Di antara mereka itu juga nggak sedikit yang punya rasa ingin tahu ato semangat belajar yang besar. Pernah aku ketemu sama anak-anak kecil yang biasanya meminta-minta atau berjualan di perempatan jalan berkumpul bersama teman-temannya membaca dengan serius berita atau artikel di surat kabar, walaupun dengan terbata-bata, sambil bersimpuh di trotoar jalan. Sebenarnya, orang tua mereka lah yang tidak mengarahkan, tidak berusaha, atau tidak mementingkan pendidikan bagi anak-anak mereka. Anak-anak kecil yang polos dan lugu itu pastinya nggak bakal ngerti gimana pentingnya sekolah buat masa depan. Mereka cuma bisa ngikutin arahan orang tua atau pengasuh mereka. Kalau orang tua nggak menyekolahkan mereka, tentu tak bisa kita menyalahkan atau berbicara pada anak-anak kecil itu bahwa mereka seharusnya sekolah daripada meminta-minta. Orang tuanya lah yang seharusnya kita salahkan. Tapi dilemastis banget kalo ngeliat kondisi keluarga mereka yang hidup kekurangan,buat makan aja susah apalagi buat sekolah..:(
 Kalo ditarik benang merahnya ke atas, tanggung jawabnya bakalan sampai ke masyarakat atau pemerintah yang nggak mau peduli sama masa depan sebagian generasi penerus bangsa ini.
Kisah sahabatku dan nasib anak-anak jalanan tersebut Cuma salah satu contoh kecil di sudut di dunia ini, sebuah gambaran atau contoh betapa hidup itu terkadang tak adil. Tapi belumlah cukup waktu itu buat aku memaknai hakekatnya dan sampai pada pernyataan kalo memang hidup itu nggk adil. Adalah komentar yang pernah dikeluarkan seorang dosenku pas ngebalas email yang nguatin atau negasin di pikiran saya tentang hal ini.
Dalam kehidupan bakal mudah kita nemuin orang-orang yang memiliki pekerjaan di bidang tertentu yang lebih berat dan sulit, tapi digaji lebih rendah daripada orang-orang yang bekerja di bidang lain (nggak masalah dan bukan nggak fair kalo dalam pekerjaan yang lebih sulit itu terdapat passion, kepuasan batin,dan minat/semangat yang tinggi dari mereka yang bekerja). Ada orang yang terlahir dari keluarga kaya raya, dengan semua kebutuhan tercukupi dengan mudah. Untuk masalah pendidikan, mereka tinggal belajar dan bisa disekolahkan oleh orang tua mereka bahkan sampe ke luar negeri. Di antara mereka banyak juga yang tinggal meneruskan bisnis atau perusahaan yang telah dirintis oleh orang tua atau keluarga. Di satu sisi, ada juga orang yang semasa kecilnya harus hidup serba kekurangan dan penuh dengan keprihatinan. Untuk bersekolah pun harus berhutang ke sana sini atau sambil bekerja untuk menambal kekurangannya.
Ada orang yang terlahir dengan muka pas-pas an (paling nggak, nggak bisa dibilang nggak jelek2 amatlah :D),apalagi yang terlahir dengan cacat di tubuhnya. Di satu sisi, ada yang terlahir dengan kesehatan yang baik, fisik yang prima, dan tampang yang memikat.
Ada yang terlahir sebagai seorang yang cerdas, memiliki daya hapal/ daya ingat yang kuat sehingga mudah dalam belajar atau memahami sesuatu. Di sisi lain, ada yang terlahir dengan otak pas-pasan sehingga harus belajar ekstra keras, berulang-ulang kali dalam kurun waktu tertentu untuk memahami sesuatu.
Ada yang terlahir dengan orang tua yang lengkap serta mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orangtua / keluarganya. Ada yang terlahir tanpa pernah melihat kedua orang tuanya. Ada juga yang harus menerima kenyataan pahit memiliki keluarga yang berantakan alias broken home yang diwarnai percekcokan di antara kedua orang tuanya atau bahkan terpaksa single parent.
Masih banyak lagi contoh-contoh tentang realita kehidupan yang nggk sama atau nggak adil yang dialami satu orang dengan yang lain.
Ada satu hal pengen aku tekanin disini kalo ada berbagai faktor penyebab kesuksesan seseorang (dalam konteks kacamata keduniawian). Nggak selamanya dan nggak selalu apa yang diperoleh seseorang, bila dibandingkan dengan yang diperoleh orang lain, adalah gambaran seberapa keras hasil usaha dan kerja kerasnya dibandingkan usaha atau kerja keras orang lain.
Ilustrasinya,  kalo A bekerja lebih keras dan lebih rajin daripada si B, belum tentu posisi si A lebih tinggi daripada si B di mata dunia.
Itulah kenyataannya, dan itulah suatu realita kerasnya dan tidak fair nya kehidupan.

So, apa kita harus bersedih hati, patah semangat, putus asa, atau takut menghadapi kenyataan kaya gitu? Apa perlu orang-orang yang menghadapi kenyataan bahwa memang dunia nggak berpihak pada mereka trus mengeluarkan kata-kata umpatan atau protes pada kehidupan itu sendiri ?
Nggak perlu kaya gitu. Masing-masing orang memang sudah ada suratan takdirnya. Tugas kita cuma berusaha dengan sebaik-baiknya, selalu meningkatkan kualitas diri, mempelajari segala kesalahan dan kekurangan yang ada, lalu memanfaatnya untuk hari esok yang lebih baik. Bolehlah dari sudut pandang dunia orang lain lebih tinggi posisinya atau lebih mudah menggapai cita-cita dan kenyamanan hidupnya. Tapi perlu diingat kalo hari ini, detik ini, bukanlah titik akhir atau garis finish dari kehidupan itu sendiri. Masih ada hari-hari panjang ke depan untuk mengejar ketertinggalan sampai ajal pun tiba. Dan posisi yang diperoleh seseorang saat ini bukanlah tolak ukur yang objektif tentang arti sebuah kesuksesan yang sesungguhnya. Nggakk ada indahnya sebuah kesuksesan yang didapat tanpa banyak kisah, cucuran keringat, dan air mata. Bisa sampai pada anak tangga teratas beranjak dari anak tangga di tengah-tengah tentunya nggak sehebat orang yang sampai pada tangga teratas (atau barangkali cuma sampai di tiga perempatnya) tapi diperolehnya mulai dari anak tangga yang paling bawah. 

Yeay!! bagiku tolak ukur kesuksesan yang sesungguhnya itu adalah seberapa jauh dan seberapa besar usaha yang telah dikeluarkan untuk memanfaatkan potensi yang kita miliki dalam kehidupan.
Anak jenius jadi juara kelas itu biasa, tapi adalah luar biasa anak biasa yang mengalahkan sang jenius dengan kerja kerasnya. Ini diakibatkan sang jenius gagal memanfaatkan potensi dirinya semaksimal mungkin yang nggak seharusnya bisa dikalahkan oleh anak biasa. Sang jenius baru layak dihargai jika ia berhasil berkreasi dan menemukan penemuan penting dalam kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya dan sesama. Well, I am talking about the difference level of playing ground here. Barulah adil kalau tikus diadu sesama tikus, atau kucing diadu sesama kucing. Jika tikus diadu dengan kucing, ya harusnya kucing (pasti) akan menang, walaupun tak betul-betul 100% kemungkinan kucing tak terkalahkan oleh tikus (lols, hanya ada dalam kartun Tom & Jerry).

So, dalam hidup nggak usahlah kita terlalu berorientasi melihat posisi yang diperoleh orang lain. Fokus saja pada pencapaian atau perolehan pribadi sebaik-baik mungkin dengan memanfaatkan potensi dan kekuatan diri yang ada dan dengan kerja keras. Dalam hidup, kita nggak tahu bener  kok apakah memang orang yang posisinya di atas kita lebih dikarenakan dunia yang lebih berpihak pada mereka. Bisa jadi mereka memang di atas kita karena mereka lebih keras usahanya, lebih banyak cucuran keringat dan air matanya, hanya aja kita nggak  pernah mengetahuinya. Hmm,,,bisa aja orang yang kita anggap berbahagia atu udah dalam kondisi ternyamannya, ternyata sebenarnya adalah juga belum merasa puas, bahagia ato masih ingin sesuatu yang lebih baik, sama kaya apa yang diri kita rasain. Hanya aja kita nggak pernah menyadarinya karena terhalang oleh perasaa iri dan dengki. (istighfar…Ya Allah selalu ingatkan hamba agar tidak merasa iri dan dengki bahkan sibuk melihat dan selalu ingin meraih pujian dari sesama)

Pada prinsipnya dalam hidup tetap berlaku prinsip: siapa yang menabur benih dialah yang akan menuai hasilnya. Orang yang terus berusaha keras, tak pernah patah semangat dan putus asa, nggak peduli halangan dan berapa banyak kegagalan yang akan atau yang sudah terlewatkan, pada akhirnya ia  bakalan sampai juga pada kesuksesan itu. Hanya tinggal menunggu waktunya saja. Mungkin cuma dua hal yang barangkali bisa menggagalkan pencapaian tersebut , yang pertama ajal dan kedua takdir Allah. Tapi, walaupun takdir nggak berpihak padanya seperti diakibatkan ajal yang terlanjur cepat datang, sesungguhnya ia sudah menjadi pemenang. Sebagai umat beragama, hasil usaha kerja kerasnya akan sampai juga padanya dengan bentuk yang lebih baik di kehidupan setelah mati asalkan selama berusaha di dunia ia tetap tak lupa sama Allah, tetep istiqomah melakukan segala usaha sesuai perintah Allah n ikhlas hanya mencari ridho Allah. Dan harus diingat segala usaha manusia, termasuk dalam rangka memenuhi kebutuhan di dunianya, asalkan dilakukan dengan niat yang baik, pasti diberi ganjaran pahala dari Allah. 

Gimana dengan orang-orang yang merasa dirinya telah sukses ? Kalo ia sadar, ia pasti berfikir  nggak semua selalu dan semata-mata keberhasilannya diperoleh hanya karena hasil kerja kerasnya (karena sesungguhnya ada banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesan itu, termasuk keberuntungan/takdir). So seharusnya ia menjauhi sifat sombong atau lupa diri. Ia harusnya banyak bersyukur dan menggunakan nikmat yang diperolehnya tersebut dengan jalan yang baik dan bijaksana. Selain itu perlu diingat, kalo ia berada di atas sekarang, belum tentu besok atau selamanya akan tetap begitu adanya. Hidup terkadang bagaikan roda berputar, kadang di atas kadang di bawah. Allah Maha membolak balikan segala sesuatu dengan mudahnya.

Udah banyak contoh jatuhnya bahkan bisa dibilang terjunnya seseorang dari titik tertinggi kehidupannya semata-mata karena keterlenaannya akan kehidupan itu sendiri. Dan perlu diingat juga, kalo ia punya agama, punya Allah, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah sementara dan nggak ada apa-apanya di bandingkan kehidupan setelahnya. Nggak peduli seberapa banyak harta bendanya saat ini, seberapa besar pengaruh dan kekuasaannya, sesungguhnya pada akhirnya ia juga akan mati. Dan kelak segala usaha, amal perbuatannya akan dipertanggung jawabkan dihadapan dan dibalas seadil-adilnya oleh Allah.

Hidup memang terkadang nggak adil, dan seringkali keras. Tapi tetaplah berbesar hati dan berusaha sebaik yang kita bisa. Jangan sedih bagi yang belum berhasil dalam hidup, dan jangan pula lupa diri bagi yang telah merasakan kesuksesan tersebut. Sesungguhnya baik dan buruk,enak nggak enak, susah seneng semua itu cobaan dari Allah.








Top of Form
Bottom of Form

JAMINAN DAN PENYELESAIAN KREDIT BERMASALAH

October 19, 2012 756 Comments


Kredit yang diberikan oleh bank mengandung resiko sehingga bank dituntut kemampuan dan efektivitasnya dalam mengelola resiko kredit dan meminimalkan potensi kerugian sehingga bank wajib memperhatikan asas perkreditan yang sehat:
1.      Bank tidak diperkenankan memberikan kredit tanpa surat perjanjian tertulis.
2.      Bank tidak diperkenankan memberi kredit pada usaha yang dari awal telah diperhitungkan kurang sehat dan akan membawa kerugian.
3.      Bank tidak diperkenankan memberikan kredit untuk pembelian saham dan modal kerja dalam rangka kegiatan jual beli saham.
4.      Memberikan kredit melampaui batas maksimum pemberian kredit (legal ending limit).

Bank dalam menyalurkan dana untuk kredit harus didasarkan pada adanya suatu jaminan. Yang dimaksud jaminan dalam pemberian kredit adalah keyakinan bank atas kesanggupan debitur untuk melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan.

PENANGANAN KREDIT BERMASALAH

KREDIT BERMASALAH
Adalah kondisi dimana debitur mengingkari janjinya membayar bunga dan atau kredit induk yang telah jatuh tempo, sehingga terjadi keterlambatan pembayaran atau sama sekali tidak ada pembayaran.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KREDIT BERMASALAH

       I.            FAKTOR INTERN BANK
1.      Rendahnya kemampuan bank dalam melakukan analisis permohonan kredit
Misal; kredit diberikan tanpa pendapat atau saran dari komite kredit, taksasi nilai jaminan lenih tinggi dari nilai riil, kredit diberikan kepada perusahaan yang belum berpengalaman, daftar keuangan dan dokumen pendukung yang diserahkan kepada bank adalah hasil rekayasa, serta bank tidak memperhatikan laporan pihak ketiga yang kurang mendukung permohonan debitur.
2.      Lemahnya sistem informasi, pengawasan,dan administrasi kredit.
Dapat dilihat dari penarikan dana kredit sebelum dokumen kredit selesai, surat teguran atas tunggakan kepada debitur tidak disertai dengan tindakan riil, bank jarang mengadakan analisis cash-flow, status kredit, bank tidak mengawasi penggunaan kredit, komunikasi antara bank dengan debitur kurang lancar, tidak ada rencana dan jadwal yang tegas mengenai pembayaran kembali, bank tidak meminta dan menerima neraca rugi/laba, bank gagal menerapkan sistem dan prosedur tertulis mereka, bank mengabaikan cerukan debitur, serta bank tidak berhasil meninjau kondisi fasilitas produksi debitur.
3.      Campur tangan berlebihan
Kredit diberikan atas usul dari pihak petugas bank yang bersahabat dengan debitur, pimpinan puncak bank terlalu dominan dalam proses pengambilan keputusan kredit.
4.      Lemahnya pengikatan jaminan yang kurang sempurna.
Kurang sempurna dalam hal ini maksudnya seperti penambahan kredit tanpa jaminan yang cukup, tidak dapat merealisir jaminan kredit, serta bank tidak berhasil menguasai jaminan secepatnya ketika terdapat tanda kredit yang diberikan berkembang ke arah kredit bermasalah.

PENGGOLONGAN KREDIT BERMASALAH (Berdasarkan Pasal 10 Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum)
1.      LANCAR
2.      DALAM PERHATIAN KHUSUS
3.      KURANG LANCAR
a.       Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 90 hari
b.      Sering terjadi cerukan
c.       Frekuensi mutasi rekening relative rendah
d.      Terjadi pelanggaran kontrak yang telah diperjanjikan selama 90 hari
e.       Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur
f.       Dokumentasi pinjaman yang lemah

4.      DIRAGUKAN
a.       Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 180 hari
b.      Terjadi cerukan yang bersifat permanen
c.       Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari
d.      Terjadi kapitalisasi bunga
e.       Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun pengikatan jaminan
5.      MACET
a.       Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga lebih dari 270 hari
b.      Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru
c.       Dari segi hukum, maupun segi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar.


    II.            FAKTOR KETIDAKLAYAKAN DEBITUR
1.    Debitur Perorangan
Sumber: penghasilan
Gangguan: kesehatan, kematian, perceraian.
2.    Debitur Korporasi
Salah urus/mismanagement, kurangnya pengetahuan dan pengalaman, dan adanya penipuan.
 III.            FAKTOR EKSTERN
1.    Menurunnya kegiatan ekonomi
2.    Tingginya suku bunga kredit
3.    Pemanfaatan iklim persaingan dunia perbankan yang tidak sehat oleh debitur yang tidak bertanggungjawab.
4.    Musibah yang menimpa perusahaan debitur.

Sumber Penyebab Kredit Bermasalah (Non Performing Loan)

Sumber-sumber penyebab terjadinya kegagalan pengembalian kredit oleh nasabah atau penyebab terjadinya kredit bermasalah pada bank dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Self Dealing
Self dealing terjadi karena adanya interest tertentu dari pejabat pemberi kredit terhadap permohonan yang diajukan nasabah, berupa pemberian kredit yang tidak layak atas dasar yang kurang sehat terhadap nasabahnya dengan harapan mendapatkan kompensasi berupa pemberian imbalan dari nasabah.
2. Anxiety for Income
Pendapatan yang diperoleh melalui kegiatan perkreditan merupakan sumber pendapatan utama sebagian besar bank sehingga ambisi ataupun nafsu yang berlebihan untuk memperoleh laba bank melalui penerimaan bunga kredit  sering menimbulkan pertimbangan yang tidak sehat dalam pemberian kredit.
3. Compromise of Credit Principles
Pelanggaran prinsip-prinsip kredit oleh pimpinan bank yang menyetujui pemberian kredit yang mengandung risiko yang potensial menjadi kredit yang bermasalah.
4. Incomplete Credit Information
Terbatasnya informasi seperti data keuangan dan laporan usaha, disamping informasi lainnya seperti penggunaan kredit, perencanaan, ataupun keterangan mengenai sumber pelunasan kembali kredit.
5. Failure to Obtain or Enforce Liquidation Agreements
Sikap ragu-ragu dalam menentukan tindakan terhadap suatu kewajiban yang telah diperjanjikan, meskipun nasabah mampu dan wajib membayarnya, juga merupakan penyebab timbulnya kredit-kredit yang tidak sehat dan mengakibatkan kredit bermasalah bagi bank.
6. Complacency
Sikap memudahkan suatu masalah dalam proses kredit akan mengakibatkan terjadinya kegagalan atas pelunasan kembali kredit yang diberikan
7. Lack of Supervising
Karena kurangnya pengawasan yang efektif dan berkesinambungan setelah pemberian kredit, kondisi kredit berkembang menjadi kerugian karena nasabah tidak memenuhi kewajibannya dengan baik.
8. Technical Incompetence
Tidak adanya kemampuan teknis dalam menganalisis permohonan kredit dari aspek keuangan meupun aspek lainnya akan berakibat kegagalan dalam operasi perkreditan suatu bank. Para pejabat kredit harus senantiasan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang berkaitan dengan tugasnya dan jangan memberikan kredit kepada usaha atau sektor yang tidak dikenal dengan baik.
9. Poor Selection of Risks
Risiko tersebut dapat dijelaskan dibawah ini:
a.       Pejabat kredit mampu mendeteksi kemampuan nasabah dalam membiayai usahanya, selain yang diperoleh dari bank.
b.      Pejabat kredit harus mampu menghitung berapa kebutuhan nasabah yang sesungguhnya.
c.       Pejabat kredit harus mampu menghitung nilai taksasi jaminan yang mengcover kredit yang diberikan
d.      Pejabat kredit harus mampu memperhitungkan kemungkinan risiko yang dihadapi dengan pemberian kredit dan mengetahui sumber pelunasan.
e.      Pejabat kredit harus mampu mendeteksi risiko pemberian kredit yang mungkin secara kemampuan cukup baik, tetapi dari sisi moral kurang menguntungkan bagi bank.
f.        Pejabat kredit harus mampu mendeteksi kualitas jaminan yang akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
10. Overlending
Overlending adalah pemberian kredit yang besarnya melampaui batas kemampuan pelunasan kredit oleh nasabah.
11. Competition
Competition merupakan risiko persaingan yang kurang sehat antar bank yang memperebutkan nasabah yang berakibat pemberian kredit yang tidak sehat.


DAMPAK KREDIT BERMASALAH
1.      Terhadap kelancaran operasi bank pemberi kredit dalam pandangan bank sentral:
a)    Aktiva produktif bank yang diragukan kolektibilitasnya (kewajiban PPAP=penyisihan penghapusan aktiva produktif)
b)   Menurunnya profitabilitas ( ROA= Return On Asset)
c)    Megurangi jumlah modal bank yang berakibat pada menurunnya persentase car dan bank harus memasukkan modal.
2.      Terhadap industri perbankan
a)    Turunnya likuiditas, solvabilitas, dan kepercayaan masyarakat
b)   Bank systemic risk
3.      Terhadap kehidupan ekonomi dan moneter negara
a)    Peranan bank sebagai lembaga intermediasi tidak dapat berfungsi sehingga akan memperkecil kesempatan peluang bisnis, proyek baru, lapangan kerja baru, dsb.

PENCEGAHAN KREDIT BERMASALAH
Dengan prinsip kehati-hatian
1.      Permohonan
2.      Analisis
3.      Keputusan
4.      Perjanjian
5.      Pengikatan jaminan
6.      Dropping kredit
7.      Pengawasan
8.      Pelunasan dan atau perpanjangan

GEJALA AWAL KREDIT BERMASALAH
1.      Penyimpangan dari ketentuan perjanjian kredit
2.      Penurunan kondisi keuangan debitur
3.      Penyajian laporan dan bahan masukan lain secara tidak benar.
4.      Menurunnya sikap kooperatif debitur
5.      Penurunan nilai jaminan yang disediakan.
6.      Tingginya frekuensi pergantian tenaga inti.
7.      Timbulnya problem pribadi serius.

PENANGANAN KREDIT BERMASALAH

Penyelesaian Kredit Bermasalah Secara Administrasi Perkreditan
Secara operasional penanganan penyelamatan kredit bermasalah dapat ditempuh melalui beberapa cara diantaranya:
a.       Penjadwalan Kembali ( rescheduling )
Perubahan syarat kredit yang menyangkut jadwal pembayaran dan atau jangka waktu termasuk masa tenggang, baik meliputi perubahan besarnya angsuran maupun tidak.
b.      Persyaratan Kembali ( reconditioning )
Perubahan sebagian atau seluruh syarat-syarat kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu dan atau persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut perubahan maksimum saldo kredit dan konversi seluruh atau sebagian dari pinjaman menjadi penyertaan bank.
c.       Penataan Kembali ( restructuring )
Perubahan syarat-syarat kredit berupa penambahan dana bank dan atau konversi seluruh atau sebagian tunggakan bunga menjadi pokok kredit baru dan atau konversi seluruh atau sebagian dari kredit menjadi penyertaan dalam perusahaan.

Restrukturisasi kredit berdasarkan SK.Dir. BI 31/150/KEP/DIR/1998
Upaya yang dilakukan bank dalam kegiatan usaha perkreditan agar debitur dapat memenuhi kewajibannya, antara lain melalui: penurunan suku bunga kredit, pengurangan tunggakan bunga kredit,  pengurangan  tunggakan pokok kredit, perpanjangan jangka waktu kredit, penambahan fasilitas kredit, pengambilalihan aset debitur sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

PENYELESAIAN KREDIT BERMASALAH MELALUI JALUR HUKUM
Penanganannya lebih banyak ditekankan melalui beberapa upaya yang lebih bersifat pemakaian kelembagaan hukum, diantaranya:
a.       Melalui Panitia Urusan Piutang Negara dan Badan Urusan Piutang Negara
Mekanisme penanganan piutang negara oleh PUPN yaitu apabila utang negara tersebut telah diserahkan pengurusan kepadanya oleh pemerintah atau bank milik negara tersebut kemudian setelah dirundingkan oleh panitia dengan penanggung utang dan diperoleh kata sepakat tentang jumlah utang yang harus dibayar termasuk bunga uang, denda serta biaya yang bersangkutan dengan piutang ini oleh ketua panitia dan penanggung utang/penjamin utang dibuat surat pernyataan bersama yang memuat jumlah dan kewajiban penanggung utang untuk melunasinya. Pelaksanaannya dilakukan oleh ketua panitia.
Tambahan:
Kredit bermasalah terutamanya golongan kredit macet pada bank milik negara merupakan salah satu bentuk yang dikategorikan sebagai piutang negara karena bank milik negara merupakan salah satu badan yang secara langsung atau tidak langsung dikuasai negara (pasal 12 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.49 tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara). Penyelesaian kredit bank milik negara dapat diusahakan melalui Panitia Urusan Piutang Negara (anggotanya wakil dari Depatemen Keuangan, Departemen Hankam, Kejaksaan Agung dan dari Bank Indonesia; sedangkan struktur organisasinya terdiri atas PUPN Pusat, wilayah dan cabang).
Mekanisme penanganan piutang negara oleh PUPN, yaitu apabila piutang negara tersebut telah diserahkan pengurusannya kepadanya oleh pemerintah atau bank milik negara terssebut. Piutang yang diserahkan adalah piutang yang adanya dan besarnya telah pasti menurut hukum, tetapi yang penanggung utangnya tidak melunasinya sebagaimana mestinya.
Mekanisme penyelesaian pengurusan piutang negara paling tidak melalui tahapan:
1.      Setelah dirundingkan oleh panitia dengan penanggung utang dan diperoleh kata sepakat tentang jumlah utangnya yang masih harus dibayar, termasuk bunga uang, denda, serta biaya-biaya yang bersangkutan dengan piutang ini, oleh ketua panitia dan penanggung utang atau penjamin utang dibuat suatu pernyataan bersama yang memuat jumlah dan kewajiban penanggung utang untuk melunasinya.
2.      Pernyataan bersama ini mempunyai kekuatan pelaksanaan, seperti suatu putusan hakim yang telah berkekuatan hukum pasti. Dengan demikian, PUPN mempunyai kewenangan parate executie.
3.      Pelaksanaannya dilakukan oleh ketua panitia dengan surat paksa melalui cara penyitaan, pelelangan barang-barang kekayaan penanggung utang/penjamin utang dan penyaderaan terhadap penanggung utang/penjamin utang dan pernyataan lunas piutang negara.
4.      Dalam hal penyitaan khusus khususnya terhadap kekayaan yang tersimpan di lembaga perbankan, maka sesuai dengan ketentuan pasal 4 Keputusan Menteri Keuangan No.376/KMK.09/1995, maka PUPN dapat melakukannya tanpa memerlukan izin terlebih dari Menteri Keuangan. Adapun hasil dari penyitaan tersebut untuk digunakan pembayaran atau pelunasan hutang penanggung utang/penjamin utang.
b.      Melalui badan peradilan
Dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya, setiap kreditur dapat mengajukan gugatan untuk memperoleh keputusan pengadilan. Peradilan yang dapat menangani kredit bermasalah yaitu peradilan umum melalui gugatan perdata dan peradilan niaga melalui gugatan kepailitan.Apabila sudah ditetapkan keputusan pengadilan yang kemudian mempunyai kekuatan hukum untuk dilaksanakan atas dasar perintah dan dengan pimpinan ketua pengadilan negeri yang memeriksa gugatannya pada tingkat pertama, menurut ketentuan-ketentuan HIR pasal 195 dan selanjutnya. Atas perintah ketua pengadilan ketua pengadilan tersebut dilakukanlah penyitaan harta kekayaan debitur, untuk kemudian dilelang dengan perantara kantor lelang. Dari hasil pelelangan itu kreditur memperoleh pelunasan piutangnya.

c.       Melalui arbitrase atau Badan Alternatif Penyelesaian Sengketa
Dilakukan melalui lembaga arbitrase, yaitu suatu badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu. Para pihak dapat memilih arbiter yang menurut keyakinannya mempunyai pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan, jujur dan adil, para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalahnya, serta proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase, serta putusan arbitrase.
Keuntungan penggunaan lembaga arbitrase antara lain:
1.      Penyelesaiannya relative tidak memerlukan waktu yang lama
2.      sifatnya tertutup maka diharapkan nama baik para pihak terjaga
3.      para pihak dapat memilih arbiter yang menurut keyakinannya mempunyai pengetahuan, pengalaman serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan, jujur dan adil
4.      para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalahnya serta proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase
5.      serta putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak dan langsung dapat dilaksanakan
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
d.      Melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional
Dilakukan melalui tindakan pemantauan kredit, peninjauan ulang, pengubahan, pembatalan, pengakhiran dan atau penyempurnaan dokumen kredit dan jaminan, restrukturisasi kredit, penagihan piutang, penyertaan modal pada debitur, memeberikan jaminan atau penanggungan, pemberian atau penambahan fasilitas pembiayaan dan atau penghapusbukuan piutang.
Penanganan kredit macet oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional, diantaranya melalui penyertaan modal sementara (pasal 15 Peraturan Pemerintah No.17 tahun 1999 tentang Badan Penyehatan Perbankan Nasional) yaitu bahwa dalam rangka penyehatan perbankan dan atau pengelolaan kekayaan yang berbentuk portofolio kredit. Penyertaan modal sementara dilakukan secara langsung atau melalui pengkonversian tagihan Badan Penyehatan Perbankan Nasional menjadi penyertaan modal.
Badan Penyehatan Perbankan Nasional dalam menangani kredit bank dalam penyehatan sesuai dengan ketentuan pasal 53 Peraturan Pemerintah No.17 tahun 1999 dilakukan melalui:
1.      Tindakan Pemantauan Kredit
2.      Peninjauan ulang
3.      Pengubahan
4.      Pembatalan
5.      Pengakhiran dan atau penyempurnaan dokumen kredit dan jaminan
6.      Restrukturisasi kredit
7.      Penagihan piutang
8.      Penyertaan modal pada debitur
9.      Memberikan jaminan atau penanggungan
10.  Pemberian atau penambahan fasilitas pembiayaan dan atau penghapusbukuan piutang.


Penyelesaian Kredit Bermasalah Perbankan Syariah
Penyelesaian kredit bermasalah perbankan syariah  melalui arbitrase
Kewenangan arbitrase menyelesaikan perbankan syariah dapat didasarkan atas kesepakatan ketika membuat perjanjian pactum de compromittendo atau dibuat ketika terjadi sengketa akta kompromis8. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase sering sekali dilakukan dalam dunia bisnis (termasuk dunia perbankan). Pilihan ini lebih disebabkan banyaknya kelebihan arbitrase dibandingkan proses litigasi9. Proses hukum yang memerlukan waktu panjang, biasanya dijadikan alasan utama dalam memilih arbitrase disamping penyelesaian arbitrase yang bersifat win win solution dan tidak menempatkan para pihak sebagai lawan. Penanganan sengketa syariah oleh badan arbitrase telah dirintis oleh BAMUI (Badan Arbitrase Mualamat Indonesia) yang dibentuk pada tahun 1993 untuk menyelesaikan sengketa bidang muamalat10. Dalam perkembangannya BAMUI kemudian menjadi cikal bakal BASYARNAS (Badan Arbitrase Syariah Nasional).
Penyelesaian kredit bermasalah perbankan syariah melalui peradilan umum
Selain arbitrase, peradilan umum berwenang menyelesaikan sengketa perbankan syariah berdasarkan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum yang menyebutkan bahwa Pengadilan Negeri bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata di tingkat pertama. Sejak lahirnya perbankan syariah (kelahiran Bank Mualamat 4 Indonesia tahun 1991), peradilan umum mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan sengketa perbankan syariah11, namun sejak tahun 2006 penyelesaian sengketa perbankan syariah beralih menjadi kewenangan Pengadilan Agama berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama.

Penyelesaian Kredit Bermasalah pada Bank Perkreditan Rakyat
Dalam upaya penyelesaian masalah kredit bermasalah ini pihak bank melakukan tindakan preventif dan represif. Tindakan preventif dengan cara pengawasan terhadap kelancaran suatu kredit yang diberikan, mengadakan pembinaan terhadap usaha debitur agar kredit berjalan lancar dan pengikatan jaminan kredit dengan jaminan.Tindakan represif adalah pertama dengan cara perdamaian yaitu penundaan waktu dan keringanan suku bunga dan angsuran, kedua, penjualan barang jaminan yang dilakukan dengan cara damai atau penjualan barang jaminan yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku menurut hukum. Kendala yang dihadapi oleh pihak bank adalah sulit mengajak debitur untuk dapat bekerjasama dengan baik

Penyelesaian Kredit Bermasalah pada Lembaga Keuangan (Finance)
Special Purpose Vehicle (SPV) adalah sebuah perusahaan dengan tujuan atau fokus yang terbatas. Perusahaan ini dibentuk oleh suatu badan hukum untuk melakukan aktivitas khusus atau bersifat sementara. Perusahaan ini biasanya, walaupun tidak perlu, dikuasai hampir sepenuhnya oleh badan hukum yang menjadi sponsornya. Oleh sebab itu SPV ini harus dijauhkan dari sponsor baik dalam bidang manajemennya maupun pemilikannya (tidak 100%), karena jika SPV sudah dikuasai atau diatur oleh sponsor, maka tidak akan ada perbedaan antara cabang perusahaan dan SPV.
Lembaga Keuangan mempunyai tugas memberikan jaminan kepada pihak bank terhadap kinerja debitur kredit bermasalah, bahwa usaha yang sedang dijalankan oleh debitur dapat memberikan hasil yang maksimal dan dengan dilakukan penjualan surat-surat berharga atas jaminan aset yang dimiliki debitur kredit bermasalah, maka pihak bank dapat memperoleh keuntungan dan akan sanggup membayar kewajiban-kewajibannya kepada investor. Tugas dari Lembaga Keuangan sangat berat. Hal ini karena Lembaga Keuangan harus mampu menghitung dengan cermat nilai dari aset yang bukan hanya dihitung dari harga aset tersebut dipasaran (market price) dan juga harga pembelian (historical cost) tetapi juga harus mampu menilai asset tersebut dengan nilai yang akan mungkin dicapai atas pemanfaatan asset tersebut. Selain hal tersebut Lembaga Keuangan juga harus mampu melakukan manajemen usaha secara kontinyu untuk menjamin bahwa usaha debitur akan mengalami perubahan yaitu peningkatan performance usaha debitur baik tingkat produksi dan keuntungan.
Atas asset yang dimiliki debitur kredit bermasalah, maka Lembaga Keuangan harus mampu melakukan split dan swap agar dapat menentukan dengan pasti komposisi jenis surat berharga yang akan memberikan keuntungan yang maksimal kepada investor dan juga bank. Maka dalam hal ini, pengalaman Lembaga Keuangan dalam melakukan manajemen keuangan dan juga finance engineering sangat dibutuhkan.