Monday, 20 April 2009

elynopatan

Aku berniat menyeberang ke rumah sakit Borromeus, mencari telepon umum. Memang tak bisa menghubungi telepon genggam, tetapi setidaknya ia bisa menghubungi Elynopatan. Dan Yugi, sepupu Rara, akan memberinya jawaban.

Begitu Adit sampai di boulevard pemisah jalan, matanya menangkap seorang gadis dengan setelan warna biru langit. Rara! Ia berdiri di sisi pintu pagar rumah sakit. Kenapa ada di sana?

“Rara!” seru Adit. Pada panggilan ketiga, Rara menoleh. Ketika itu, hampir saja Rara naik angkutan kota yang menepi oleh lambaian tangannya. “Tunggu!”

Adit menemukan wajah Rara yang murung. Mirip langit mendung. Bibir indahnya tetap terkatup. Ada yang tak beres, pikir Adit. “Kenapa tidak menunggu di Columbia?”

Rara menggeleng, “Aku harus pulang ke Malang.”

Kening Adit mengernyit. “Ada apa? Hari Senin masih ada ulangan umum, kan?”

“Ayahku sakit, “jawab Rara pendek. Matanya merebak basah.

“Di rumah atau di rumah sakit?”

Rara menimang-nimang hpnya. “Di rumah,sih.”

Adit menarik nafas lega. Setidaknya lebih terasa menentramkan dibanding jika harus rawat inap. Tapi, apakah Rara akan mengorbankan satu mata pelajaran terakhir?

“Mau kuantar ke Malang?”

Mata Rara berbinar. “Kamu tidak ada tugas?”

“Sebenarnya ada, tapi boleh dikumpulkan minggu depan, “sahut Adit, seraya membayangkan, tidak akan tidur pada tiga malam berikutnya. Portofolio Nirmala Dwimatra, untuk mata kuliah dasar, memerlukan banyak gambar yang harus diselesaikan. Lengkap dengan konsep warna.

“Apa yang kamu pikirkan?” Rara menatap bimbang. “Aku bisa pulang sendiri,kok. Diantar sampai stasiun saja.”

“Aku hanya perlu pamit Anjar atau Banu, takut mereka mencari, “sahut Adit.

“Pakai ini,”Rara mengangsurkan hp-nya.

Stasiun Surabaya Gubeng memberikan bayang-bayangan memanjang ke timur. Matahari senja memasuki rongga peron, terpantul di atas licin rel. Mata Adit menyipit oleh silau surya senja. Begitu lekas gerimis terusir. Meninggalkan selapis pelangi yang memukau.

Ia telah mendapatkan dua tiket kereta.

Menghampiri Rara yang duduk di sudut Dunkin’ Donuts dengan segelas cokelat dingin. Adit ikut menyeruput dari sedotan. “Sepuluh menit lagi,”katanya. “Kita cari nomor tempat duduk, yuk!”

Rara membayar, lalu mengikuti Adit melangkah ke arah gerbong.

“Apa di Malang bisa belajar?”

“Aku sudah belajar. Nggak perlu khawatir. Jemput aku,ya?Di sini saja.”

Adit mengangguk. Untuk Rara, gadis yang ditemukan secara ajaib di ruang Serbaguna Airlangga itu, segalanya akan dia lakukan. Kebetulan Adit salah seorang panitia lomba baca puisi SMA dalam rangka ulang tahun Grup Apresiasi Sastra Airlangga. Kebetulan peserta lomba saat itu begitu banyak, datang dari berbagai sudut kota Surabaya. Kebetulan Rara adalah salah satu peserta finalis yang sempat mencuri perhatian Adit. Dan kebetulan, puisi pilihan yang hendak dibacakan dikonsultasikan kepada Adit.

“Bagaimana sih intonasi pada bait kedua ini? Bener nggak kalau begini…”

Semula, Adit mengira gadis itu adalah salah seorang penonton, terserak bersama dengan audiens yang lain. Seperti hamparan pasir, maka dia sebutir kuarsa yang menerbitkan kerlip. Lalu Adit mencari daftar nama peserta dari tangan Bambang, teman panitia. Pada urutan kedua puluh tujuh terbaca nama yang mengesankan : Rara Rengganis. Seperti ada bisikan malaikat, yang menghubungkan nama itu dengan raut wajah bercahaya di tengah penonton. Lalu, ketika nama itu dipanggil, ternyata memang dia yang bangkit dan maju ke tengah panggung. Ia, Rara, memilih puisi karya Asrul Sani.

Saat itu, rara tidak bisa menunggu sampai pengumuman pemenang. Maka, sekali lagi seperti ada bisik malaikat, Adit mengambil kesempatan menanyakan alamat.

“Aku akan kabari hasilnya. Kemana harus kukirim surat?”

Rara menyebutkan sebuah alamat. “Elynopatan, itu rumah tanteku.”

Seperti pada hamparan pasir, Rara bagai sebutir pasir kuarsa yang menerbitkan kerlipnya. Adit mencoba mencari harapan. Memang akhirnya Rara tidak menang. Apapun beritanya, menjadi alasan untuk menulis surat. Itulah awal persahabatan mereka.

Aku memang tak punya apa-apa selain perhatian. Sepanjang kebersamaan mereka, Rara seperti mendapatkan bahu yang lebar untuk bersandar. Petengkaran dengan teman, berubah menjadi seolah debu halus yang tertiup angin, setelah sesak dadanya tumpah di depan Adit. Ketika sakit, Adit akan siap menemani ke dokter, menangkupkan jaket ke tubuhnya. Ketika sibuk belajar dan mengerjakan tugas, Adit membawakan silverqueen.

Maka sore ini, perasaan Rara tidak terlalu diliputi mendung. Ada teman perjalanan yang pasti sangat menyenangkan. Waktu pun melayang seperti putaran gasing, tak terasa mereka telah melampaui satu setengah jam jarak Surabaya-Malang. Sebentar lagi tiba di stasiun Malang kota baru. Di dalam taxi menuju rumah Rara, jemari tangan mereka saling bertaut. Itu cara Rara menambah kekuatan hati. Dalam sedih, dalam lara, dalam kemurungan oleh persoalan apapun, Rara menemukan kekuatan dari genggaman jemari Adit. Tak hanya rasa hangat, tapi juga perlindungan.

Adit pulang sendiri ke Surabaya dengan sebuah bus yang meluncur tengah malam. Memang ada selarik kesepian, memanjang seperti ilalang, seperti jalan yang ditempuh sepanjang Puncak Pass. Tapi toh ia bisa memejamkan mata, meski tak benar-benar terlena. Ia merasakan kesepian itu, berpikir tentang rasa Rara yang sedihkarena ayahnya yang sakit. Mungkin sisa ulangan tengah semester ini bisa sedikit diabaikan.

Ah, Rara mungkin benar-benar jatuh cinta, gumam Adit ketika melangkah ke tempat kosnya. Apa arti semua perhatian? Benarkah hanya mengharap pamrih?

Jika saja tidak, ia tidak terpesona pada cahaya yang ditemukan itu, kemudian menjalin persahabatan, adakah tersisa perasaan ingin dekat? Adit mersa dadanya penuh oleh segumpal harapan. Ada sederet kenangan. Entah mana yang kemudian ingin digenggamnya untuk sebuah kesimpulan, bahwa ia memang jatuh cinta pada Rara.

Lantas bagaimana dengan Tia, Laras dan Uci, tak ada getaran yang membuat jantungnya luluh.

Akhirnya Adit tak sanggup memejamkan mata. Di bawah lampu belajar ia menulis surat, yang mengalir dari lubuk hatinya. Surat cinta yang panjang. “Pertanyaanmu, Rara, tentang siapa gadis yang menjadi pacarku, membuatku tak mungkin sanggup langsung menjawab. Karena akan membuatmu terkejut jika kujawab: gadis itu adalah dirimu,,,,,”

Ketika warna subuh bangkit di langit timur, Adit merasa dirinya bagai terlahir kembali. Terurai sudah segala perasaan yang selama ini menggumpal. Rasa sayang, rasa rindu, rasa ingin memiliki, rasa tak hendak terpisahkan kepada Rara.

Entah kenapa, kemudian, ia bagai menunggu berabad-abad kabar dari Malang. Telepon yang akan mengirimkan suara kesayangannya. Ia melangkah menuju markas Group Apresiasi Sastra dengan tubuh serasa melayang karena begadang. Sesekali menghindari rinai gerimis yang pecah di rimbun daun-daunan kihujan.Padahal baru kemarin Rara ke Malang, namun Surabaya telah demikian sepi baginya. Harap-harap cemas ini terasa memalukan. Dan surat bersampul merah jambu dalam ranselnya, tak ingin diketahui siapa pun.

Kini hatinya mulai gelisah. Mulai bimbang dengan niatnya mengirim surat cinta. Sunggug ge-er. Siapa tahu, selama ini Rara selama ini Rara hanya menganggapnya seorang sahabat. Seorang kakak yang punya waktu luang untuk mengurai setiap persoalan. Ah, telah sekian puluh kali pertemuan dengan Rara, tak juga dapat ditebak perasaannya. Pertemuan yang dihitung dalam catatan, dilalui dengan suka dan duka itu, ternyata masih sulit ditandai ujungnya.

“Aditt!!”, Agung memanggilnya dari lantai bawah. “Ada telpon!”.

Siapa? Adit melompati tangga tiap dua jenjang. Rara ? Ia menerima telpon.

“Adit, ya?”, Tanya suara di seberang. “Ini, Yuvi. Aku dapat pesan dari Rara, minta dijemput di stasiun jam setengah lima. Dia naik kereta jam satu dari Malang.”

“Terima kasih, Yuvi. Salam dari keluarga Elynopatan.”

Jam setengah lima? Astaga satu jam lagi! Adit kembali melompat ke lantai dua, mengambil jaket dan ranselnya, lantas memasuki kepadatan jalan raya Karang Menjangan.

Angkutan kota merayap seperti siput. Deretan took jins membuat sepanjang jalan seperti pasar tumpah. Adit merasa gelisah, khawatir terlambat, dan itu akan membuat Rara menunggu dengan perasaan takut. Ia tahu persis bagaimana setiap kali Rara merasa bingung di tengah kerumunan orang.

Gerimis kembali berhamburan sewaktu Adit memasuki peron stasiun. Ia menemukan Rara tepat di pintu keluar. Senyumnya menunjukkan perasaan sedang gembira. Mungkin ayahnya sehat atau karena jempuatan tiba tepat waktu?

“Bagaimana…?”

“Sssttt,” telunjuk di depan bibir. “Ceritanya di bis kota aja.”

Sepanjang perjalanan menuju Elynopatan, percakapan mereka dibalut I rindu. Keceriaan Rara membuat Adit menghimpun perasaan lega. Berkali kali ditatapnya sepasang mata Rara demi mencari sekerlip harapan.

“Kenapa memandangku seperti itu? Semua baik-baik saja, kok. Percayalah!” ujar Rara sambil tertawa.

“Aku percaya.” Adit mengenggam jemari Rara. Haruskah aku juga percaya bahwa ada hati yang terhampar untuk melabuhkan perasaan-perasaanku? Adit berdebar. Ia teringat surat yang dbuatnya hingga menjelang fajar. Entah kenapa, ia takut juga jika langkahnya membentur dinding dan seluruh persahabatan ini berkeping-keping.

Ada sesuatu yang ingin dikatakan?” Rara menangkap getaran itu.

“Ayolah! Bukankah selama ini aku selalu menceritakan masalah-masalahku? Mengganggu waktumu?”

“Ya. Mungkin ini giliranku. Tapi bukankah kamu besok masih ada ujian? Tentu bukan waktu yang tepat.”

Rara kini menatap lurus mata Adit.

“Katakanlah! Jangan khawatir. Aku sudah belajar selama di kereta api. Lagipula bukan pelajaran yang sulit.”

Adit tersenyum. Ia mengalihkan tempat pembicaraan, sampai akhirnya mereka berdua turun di depan gang menuju Elynopatan. Rara membuka payungnya, karena gerimis masih menitik. Mereka berjalan sekitar dua ratusan meter. Matahari senja hanya tampak samar, tersaput langit abu-abu.

“Terima kasih telah mengantar ke rumah. Dan kini kutagih janjimu untuk mengatakan sesuatu…” Rara berhenti di ambang teras.

“Oh, ya.” Adit tergagap. “ Aku telah menuliskannya dalam sebuah surat. Bacalah sesudah bebas dari ujian. Bukan sesuatu yang terlampau mendesak.” Adit memberikan sepucuk surat bersampul warna merah muda. Rara memandangnya setengah terpesona. “Rara, aku tak ingin ada yang berubah.”

“Kamu justru membuatku berdebar-debar…,”gumam Rara saat menerima surat itu.

“Please,” Adit memberi isyarat agar surat itu disimpan. “Dan sekarang aku langsung pamit.”

“Baiklah. Mau pake payung?”

Adit menggeleng. Ia merapatkan jaketnya dan bergegas melangkah setelah saling melambaikan tangan. Ingin rasanya ia melayang, selekasnya menjauh dari Rara. Ia benar-benar tak ingin menjatuhkan tetesan besar ke telaga bening, sehingga menimbulkan lingkaran gelombang yang mengganggu ketenangan airnya. Ia tak berani membayangkan saat Rara membaca surat sepanjang lima halaman itu, tiba pada kalimat: “Pertanyaanmu Rara tentang siapa gadis yang menjadi pacarku, membuatku tak mungkin langsung sanggup menjawab. Karena akan membuatmu terkejut jika kujawab: gadis itu adalah dirimu…”

Sungguh Adit tak berani membayangkan. Sementara gerimis seperti tak hendak reda.

*mengenang pertemuan yang tak terbilang

No comments:

Post a Comment